News

Bukan dari Kampus, Gelar Doktor Hari Noorishman Lahir dari Pengabdian

240
×

Bukan dari Kampus, Gelar Doktor Hari Noorishman Lahir dari Pengabdian

Sebarkan artikel ini

TASIKTV | Pengabdian Hari Noorishman pada isu lingkungan dan masyarakat marginal mendapat pengakuan dari lembaga di India.

Ketua Paguyuban Becak Gotong Royong (PBGR) Kabupaten/Kota Tasikmalaya dan Ketua Tertinggi Ksatria Galunggung Jawa Barat itu menerima gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa dari Satyagraha Research Foundation, Champaran, India.

Hari mengatakan penghargaan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Satyagraha Research Foundation, Dr. Ajaz Ahmad, melalui surat elektronik. Keduanya juga selama ini berkomunikasi terkait berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Penghargaan ini diberikan kepada saya dari Sekretaris Jenderal Satyagraha Research Foundation, Dr. Ajaz Ahmad, yang berkedudukan di Champaran, India,” kata Hari pada 5 Oktober 2026.

Menurut Hari, gelar kehormatan itu merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi penerima penghargaan terhadap nilai-nilai filsafat Mahatma Gandhi, gerakan Satyagraha, perdamaian, prinsip tanpa kekerasan, kebenaran, hak asasi manusia, hingga pembangunan berkelanjutan.

Kiprah di bidang lingkungan menjadi salah satu pertimbangan. Hari selama ini aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan yang menyasar masyarakat marginal di Kota Tasikmalaya.

Penganugerahan tersebut berkaitan dengan peringatan 157 tahun kelahiran Mahatma Gandhi pada 2 Oktober 2026. Momentum itu sekaligus mengenang Champaran Satyagraha 1917, gerakan Satyagraha pertama yang dipimpin Gandhi di wilayah Champaran.

Bagi Hari, penghargaan tersebut bukan sekadar gelar akademik. Ia memaknainya sebagai pengakuan atas perjalanan panjang dalam kerja sosial dan lingkungan.

“Bagi seorang penggiat sosial yang menghabiskan sebagian besar umurnya di bawah rimbunnya pepohonan dan di tengah masyarakat marjinal, gelar doktor ini bukanlah akhir dari pencarian akademik, melainkan pengakuan atas keringat yang luruh di atas tanah,” ujarnya.

Selain gelar doktor kehormatan dari India, Hari mengaku menerima Sertifikat Penghargaan Perdamaian Budaya Dunia 202 Negara. Penghargaan itu menempatkannya sebagai tokoh peduli lingkungan alam dan aktivis jalanan untuk pendidikan masyarakat miskin di Kota Tasikmalaya.

Penghargaan tersebut dikeluarkan oleh Prof. Dr. (Hc) Amb. HE. Mr. Satria Pasundan selaku Ketua Perdamaian Budaya 202 Negara.

Kerja sama dengan lembaga di India juga membuka peluang perluasan jejaring sosial lintas negara. Satyagraha Research Foundation disebut berkomitmen mengembangkan kerja sama dan memperkenalkan pendekatan pemberdayaan masyarakat ke sejumlah komunitas prasejahtera di Asia Selatan.

Menurutnya, penghargaan itu tidak berhenti sebagai simbol. Gelar doktor kehormatan tersebut, kata dia, justru menjadi dorongan untuk memperluas pengabdian di bidang lingkungan, pendidikan rakyat, dan pemberdayaan masyarakat.

Hari mewakili Keluarga Besar Ksatria Galunggung dan PBGR berharap dapat bertemu langsung dengan KDM, Gubernur Jawa Barat. Ia ingin menyampaikan sejumlah pesan dan harapan dari kelompok masyarakat marjinal, bukan hanya para abang becak, tetapi juga tukang parkir, petugas keamanan, pedagang asongan, pedagang kaki lima, dan kelompok lainnya yang tergabung dalam PBGR.

Mereka berharap dapat berdiskusi langsung dengan KDM, meski hanya beberapa menit. Selama ini, kelompok tersebut merasa kurang mendapat perhatian, bahkan cenderung diabaikan oleh Pemerintah Kota maupun Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya serta DPRD Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. (Ryan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *