News

Santri dan Indonesia Emas, Undang Ubaidillah Tekankan Ilmu, Teknologi, dan Kerukunan

75
×

Santri dan Indonesia Emas, Undang Ubaidillah Tekankan Ilmu, Teknologi, dan Kerukunan

Sebarkan artikel ini
Undang Ubaidillah, guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 3 Kota Tasikmalaya

TASIKTV | Tantangan santri pada masa kini tidak lagi sebatas mendalami ilmu agama. Mereka juga dituntut menguasai teknologi, menyebarkan informasi yang benar, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Pesan itu disampaikan Undang Ubaidillah, guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 3 Kota Tasikmalaya, dalam momentum Hari Santri Nasional 2026.

Menurut Undang, perubahan zaman turut mengubah bentuk perjuangan santri. Jika pada masa penjajahan perjuangan dilakukan melalui perlawanan fisik, kini santri perlu mengambil peran melalui ilmu pengetahuan, literasi digital, dan karya nyata.

“Dulu konteksnya adalah penjajahan fisik. Fatwa jihad saat itu tertuang dalam Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari. Hari ini konteksnya sudah berubah total. Musuh kita bukan lagi tentara NICA,” ujar Undang saat diwawancarai pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Ia menilai, semangat perjuangan santri perlu diteruskan melalui kemampuan menyampaikan ilmu dan kebenaran di ruang digital. Media sosial, menurut dia, dapat menjadi sarana dakwah sekaligus ruang untuk melawan informasi keliru.

“Bentuk jihad santri pun berubah, dari jihad angkat senjata menjadi jihad pena dan lisan. Sekarang, santri harus menyebarkan ilmu yang benar lewat konten digital,” katanya.

Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut, menurut Undang, relevan dengan kebutuhan bangsa untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki dasar keagamaan kuat sekaligus mampu menjawab perkembangan zaman.

Menjaga Tradisi, Menguasai Teknologi

Undang juga menyoroti anggapan sebagian masyarakat yang memandang santri hanya berkutat pada ilmu agama dan kurang mengikuti perkembangan dunia luar. Ia menilai pandangan tersebut tidak sejalan dengan potensi pendidikan pesantren yang dapat melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan adaptif.

Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Kota Santri, Tasikmalaya memiliki tradisi pendidikan pesantren yang kuat. Sejumlah pesantren, seperti Cipasung, Miftahul Huda Manonjaya, Sukahideng, dan Suryalaya, menjadi bagian dari perjalanan pendidikan Islam di daerah tersebut.

Undang mengingatkan santri agar tidak meninggalkan tradisi keilmuan pesantren, termasuk metode sorogan dan bandongan, serta sikap tawaduk kepada guru. Tradisi itu, menurut dia, menjadi fondasi pembentukan karakter di tengah perkembangan teknologi yang serba cepat.

“Jangan pernah malu dengan sarung dan peci kalian. Jangan tinggalkan ngaji sorogan, bandongan, dan akhlak tawaduk kepada guru. Itu akar kalian,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan bahwa menjaga tradisi tidak berarti menutup diri dari kemajuan. Santri justru perlu memperluas keahlian agar dapat berkontribusi di berbagai bidang profesi.

“Kiai-kiai Tasik dulu mengajarkan kita untuk tafaqquh fiddin, tapi Tasik hari ini juga butuh santri yang tafaqquh fi at-tiknuluji,” kata Undang.

Ia berharap santri tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi, tetapi juga menjadi pencipta inovasi. Mereka dapat berkiprah sebagai programmer, pengusaha, petani modern, kreator konten, dokter, hingga pemimpin.

Dengan begitu, identitas Tasikmalaya sebagai Kota Santri tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pesantren, tetapi juga oleh karya dan kontribusi lulusannya bagi masyarakat.

Santri sebagai Perekat Masyarakat

Selain penguasaan ilmu dan teknologi, Undang menekankan pentingnya peran santri dalam menjaga kerukunan sosial. Menurut dia, nilai keagamaan harus tercermin dalam kepedulian terhadap sesama, terutama ketika masyarakat menghadapi kesulitan.

Ia mengajak santri menjadi kelompok yang hadir membantu warga ketika terjadi bencana, meringankan beban tetangga yang kesusahan, serta meredakan perbedaan pendapat di tengah masyarakat.

“Jadilah perekat. Ingat pepatah Sunda: silih asah, silih asih, silih asuh,” tuturnya.

Bagi Undang, semangat Hari Santri seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa santri memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai keagamaan, memperluas pengetahuan, dan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Dengan bekal ilmu, akhlak, dan penguasaan teknologi, santri diharapkan mampu memperkuat persatuan sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *