News

Budidaya Kelinci di Sukamajukaler Diharapkan Bantu Ketahanan Pangan dan Cegah Stunting

102
×

Budidaya Kelinci di Sukamajukaler Diharapkan Bantu Ketahanan Pangan dan Cegah Stunting

Sebarkan artikel ini

TASIKTV | Kelompok Padasuka di Kelurahan Sukamajukaler, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, mulai mengembangkan budidaya kelinci setelah menerima bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tasikmalaya. Program ini diharapkan mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka peluang tambahan ekonomi bagi keluarga.

Ketua Kelompok Padasuka, Syamsudin, mengatakan kelompoknya menerima 25 ekor kelinci sekitar sebulan lalu. Bantuan itu terdiri atas 20 ekor betina dan lima ekor jantan.

Namun, dalam proses pemeliharaan, tiga ekor kelinci dilaporkan mati. Kelompok tersebut telah menyampaikan laporan kepada dinas terkait dan mendapat informasi bahwa kelinci yang mati akan diganti.

“Sebulan lalu, kami diberi kepercayaan oleh Dinas Pertanian untuk mengembangkan kelinci. Kami menerima 25 ekor, terdiri atas 20 betina dan lima jantan. Ada kendala kecil, tiga ekor mati. Kami sudah melaporkannya kepada dinas terkait dan alhamdulillah akan ada penggantian,” kata Syamsudin saat ditemui pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Bantuan serupa juga disalurkan kepada dua kelompok lain, yakni Kelompok Kidang Jaya di Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, dan Kelompok Tani Sari II di Kelurahan Bungursari, Kecamatan Bungursari.

Lurah Sukamajukaler, Mohamad Yosep, menyambut baik bantuan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi kepada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tasikmalaya yang telah mendukung pengembangan ternak kelinci di RW 10, Kampung Padasuka.

Menurut Yosep, budidaya kelinci berpotensi memberi manfaat lebih luas daripada sekadar menghasilkan ternak. Program ini dapat dikembangkan untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga, pemberdayaan ekonomi, hingga upaya pencegahan stunting.

Ia menilai daging kelinci dapat menjadi salah satu alternatif sumber protein hewani. Pengolahannya juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita, terutama untuk mendukung pemenuhan gizi pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.

“Dengan bantuan ini, kami berharap ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi keluarga bisa meningkat, sekaligus membantu menurunkan angka stunting,” ujar Yosep.

Selain dagingnya, limbah peternakan kelinci juga dapat dimanfaatkan. Kotoran kelinci, misalnya, bisa diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan kebun gizi di pekarangan rumah warga.

Pemanfaatan tersebut diharapkan membentuk siklus usaha yang saling mendukung, yaitu ternak menyediakan sumber pangan dan peluang ekonomi, sedangkan limbahnya membantu produktivitas tanaman pangan keluarga.

Meski demikian, keberhasilan program bergantung pada pemeliharaan ternak yang baik, pengelolaan kesehatan hewan, serta pendampingan berkelanjutan. Dengan dukungan tersebut, budidaya kelinci di Kampung Padasuka diharapkan berkembang menjadi kegiatan produktif yang memberi manfaat bagi masyarakat. (Ryan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *