News

Petani Tanjungkerta dan Kertaharja Berharap Jalan Usaha Tani Bisa Dilalui Mobil

68
×

Petani Tanjungkerta dan Kertaharja Berharap Jalan Usaha Tani Bisa Dilalui Mobil

Sebarkan artikel ini

TASIKTV | Keterbatasan akses jalan menuju area persawahan masih menjadi persoalan bagi petani di perbatasan Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, dan Desa Kertaharja, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis. Mereka berharap kedua pemerintah daerah berkolaborasi memperlebar jalan dan jembatan penghubung agar kendaraan roda empat bisa menjangkau lahan pertanian.

Selama ini, petani harus mengandalkan sepeda motor atau tenaga manusia untuk mengangkut hasil panen dari sawah menuju jalan yang bisa dilalui kendaraan. Kondisi tersebut membuat biaya operasional membengkak, terutama saat musim panen padi.

Ici, salah seorang petani Desa Tanjungkerta, mengatakan jarak antara sawah dan titik pengangkutan kerap menyulitkan petani. Mereka harus membayar jasa panggul untuk membawa hasil panen keluar dari area persawahan.

“Selama ini kami mengangkut hasil panen padi dari lokasi sawah ke jalan cukup jauh. Kami mengandalkan transportasi motor maupun tenaga manusia. Biayanya bisa mencapai jutaan rupiah,” ujar Ici saat ditemui kru media pada 1 November 2026.

Persoalan serupa dirasakan warga Desa Kertaharja, Engkos. Menurut dia, akses yang memungkinkan mobil pikap masuk hingga mendekati area persawahan akan menekan ongkos angkut sekaligus mempercepat distribusi hasil panen.

“Penggunaan kendaraan roda empat atau pikap membuat ongkos angkut per karung jauh lebih murah dibandingkan mengandalkan motor atau tenaga manusia. Akses yang lancar juga mempersingkat waktu pengiriman hasil panen ke pengepul atau pasar,” kata Engkos.

Karena itu, masyarakat berharap jembatan kecil yang menghubungkan kedua desa tersebut diperlebar dan diperkuat. Begitu pula jalan menuju persawahan yang dinilai belum memadai untuk menunjang aktivitas pertanian.

Akses jalan usaha tani (JUT) yang layak juga dibutuhkan untuk mendukung penggunaan teknologi pertanian modern. Dengan jalan yang lebih lebar, mesin pemanen padi atau combine harvester diharapkan dapat menjangkau area persawahan tanpa harus mengandalkan alat bantu darurat.

Manfaat jalan usaha tani tidak hanya dirasakan ketika musim panen. Petani juga akan lebih mudah membawa bibit, pupuk, serta peralatan pertanian ke lahan. Hasil panen pun bisa lebih cepat dipindahkan ke tempat penjemuran, gudang, maupun pasar.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan Pemerintah Kabupaten Ciamis dapat membangun kerja sama untuk meningkatkan infrastruktur di kawasan perbatasan tersebut. Bagi petani, jalan dan jembatan yang memadai bukan sekadar sarana penghubung antardesa, melainkan kebutuhan untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan kesejahteraan mereka. (Ryan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *