News

Renovasi Rumah dengan Bantuan Rp20 Juta, Endang Terpaksa Ikut Jadi Tukang

96
×

Renovasi Rumah dengan Bantuan Rp20 Juta, Endang Terpaksa Ikut Jadi Tukang

Sebarkan artikel ini
Endang Wahyudin, warga Kampung Bojongbenteng, RT 003 RW 005, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya mengaku bersyukur mendapat kesempatan memperbaiki rumah.

TASIKTV | Bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sebesar Rp20 juta belum sepenuhnya mampu menutup kebutuhan renovasi rumah. Kenaikan harga material dan ongkos pekerja membuat sejumlah penerima manfaat harus mengatur ulang biaya agar perbaikan tetap berjalan.

Kondisi itu dirasakan Endang Wahyudin, warga Kampung Bojongbenteng, RT 003 RW 005, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. Penerima bantuan Rutilahu tersebut mengaku bersyukur mendapat kesempatan memperbaiki rumahnya. Namun, keterbatasan anggaran membuatnya harus mengerjakan renovasi dengan tenaga terbatas.

“Dari bantuan Rp20 juta, sebanyak Rp17,5 juta dialokasikan untuk bahan bangunan dan Rp2,5 juta untuk upah pekerja,” kata Endang, Senin, 2 November 2026.

Dengan anggaran tersebut, Endang hanya mampu mempekerjakan seorang tukang. Ia bersama istrinya, Yeyet, turut mengerjakan sejumlah bagian rumah untuk menekan pengeluaran.

“Saya hanya menggunakan satu orang pekerja, dibantu istri sendiri. Kalau menambah tukang, saya tidak punya uang untuk membayar ongkosnya,” ujarnya.

Dalam mekanisme penyalurannya, bantuan Rutilahu tidak diberikan dalam bentuk uang tunai kepada penerima. Dana untuk pembelian material dibelanjakan melalui toko bangunan yang telah ditunjuk. Selanjutnya, bahan bangunan dikirim langsung ke lokasi rumah penerima manfaat.

Yeyet mengatakan anggaran Rp20 juta terasa semakin terbatas karena harga bahan bangunan dan upah pekerja terus meningkat. Menurut dia, dana tersebut kerap hanya cukup untuk menyelesaikan sebagian pekerjaan konstruksi.

“Bantuan Rp20 juta dinilai belum mencukupi karena harga material dan biaya tukang terus naik,” kata Yeyet.

Di Desa Tanjungkerta, program Rutilahu menyasar 20 unit rumah yang tersebar di sejumlah rukun warga. Program ini diharapkan membantu masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak dan sehat.

Namun, keberhasilan program tidak semestinya hanya dihitung dari jumlah rumah yang direnovasi. Kualitas bangunan, kelayakan sanitasi, serta dampaknya terhadap kesehatan penghuni juga perlu menjadi ukuran.

Rumah yang sehat dan layak huni merupakan bagian dari kebutuhan dasar masyarakat. Perbaikan tempat tinggal diharapkan tidak hanya mengurangi beban keluarga miskin, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas kesehatan, termasuk pencegahan stunting pada anak. (Ryan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *