News

Usulan Sejak 2021 Belum Terealisasi, Warga Bojongbenteng Keluhkan Jalan Tanpa Drainase

184
×

Usulan Sejak 2021 Belum Terealisasi, Warga Bojongbenteng Keluhkan Jalan Tanpa Drainase

Sebarkan artikel ini
Foto: Jalan Kampung Bojongbenteng, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya yang belum dilengkapi saluran drainase.

TASIKTV | Warga Kampung Bojongbenteng, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, mengeluhkan kondisi jalan kabupaten yang belum dilengkapi saluran drainase. Setiap hujan turun, air mengalir dan menggenangi badan jalan sehingga mempercepat kerusakan infrastruktur tersebut.

Ketua RT 002 RW 005, Cuay Kusni Hansyah, mengatakan persoalan drainase di ruas jalan tersebut sudah berlangsung sekitar 25 tahun. Hingga kini, belum ada pembangunan saluran pembuangan air yang memadai untuk mengendalikan aliran hujan.

“Sebagai Ketua RT, saya sangat berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya segera membangun drainase. Persoalannya, ketika hujan turun, air tumpah ke badan jalan sehingga jalan cepat rusak,” kata Cuay, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Menurut dia, keberadaan drainase menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kondisi jalan sekaligus mencegah genangan yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan kondisi ruas jalan Bojongbenteng-Ciupih yang dinilai terlalu sempit. Ketika dua kendaraan roda empat berpapasan, salah satunya harus menepi ke bahu jalan.

Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Desa Tanjungkerta, Ade Muslih, S.Sos., mengatakan pemerintah desa telah mengusulkan perbaikan ruas jalan tersebut sejak 2021, sebelum pandemi Covid-19.

Usulan itu mencakup perbaikan, pelebaran, dan pembangunan drainase pada ruas Bojongbenteng-Ciupih sepanjang 1.200 meter, mulai kilometer 0 hingga kilometer 1.200.

“Jalan ini sudah diajukan sejak 2021 sebelum Covid-19. Pengajuan perbaikan, pelebaran, dan drainase jalan Bojongbenteng-Ciupih KM 0-1.200. Kewenangan perbaikannya ada di Dinas PU Kabupaten karena termasuk jalan kabupaten,” ujar Ade.

Ia berharap pemerintah daerah segera menindaklanjuti usulan tersebut. Selain kondisi jalan yang sempit, persoalan aliran air juga semakin rumit akibat perubahan ketinggian halaman rumah warga.

Menurut Ade, sejumlah warga meninggikan halaman rumah melebihi permukaan jalan. Akibatnya, air hujan yang semestinya mengalir ke sisi jalan justru kembali menuju badan jalan.

“Ketika hujan datang, jalan menjadi seperti sungai dadakan. Air dari halaman rumah warga justru mengalir ke badan jalan, bukan sebaliknya,” katanya.

Ade menilai persoalan drainase tidak cukup diselesaikan melalui pembangunan fisik. Kesadaran masyarakat untuk menjaga jalur aliran air juga diperlukan agar saluran yang dibangun nantinya dapat berfungsi optimal.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui dinas terkait segera merealisasikan pembangunan drainase permanen sekaligus memperbaiki dan memperlebar ruas jalan tersebut.

Mereka menilai keberadaan saluran air yang memadai menjadi kebutuhan penting untuk mencegah kerusakan jalan berulang, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, serta menunjang aktivitas dan perekonomian masyarakat. (Ryan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *